Monday, January 1, 2018

Merinding (Refleksi Filsafat ketujuh)

"Sehebat-hebat gerakanku tidak bisa mengejar tulisanku. Sehebat-hebat tulisanku tak kan bisa mengejar perkataanku. Sehebat-hebat perkataanku, tak kan mampu mengejar pikiranku. Sehebat-hebat pikiranku tidak mungkin mengetahui semua relung hatiku."




Seperti biasa, perkuliahan diawali dengan soal jawab singkat. Kali ini, pertanyaan-pertanyaan seputar tokoh-tokoh filsafat. Dalam filsafat, semua yang ada dan yang mungkin ada itu ada tokohnya.
Tokohnya isi? Plato
Tokohnya wadah? Plato
Tokohnya elegi? Pak Marsigit
Tokohnya stagnan? Karl Marx
Tokohnya batu? Karl Marx
Tokohnya fiksi? Rene Descartes
Tokohnya bertanya? Socrates
Tokohnya menjawab? Socrates
Tokoh transenden? Imanuel Kant
Tokoh saklek? Aristoteles
Tokoh di luar kenyataan? Imanuel Kant
Tokoh Sejarah? Heigl
Tokoh ragu-ragu? Rene Descartes
Tokoh kontradiksi? Imanuel Kant

Filsafat itu terserah maumu apa. Karena kemauanmu itu mengalahkan segala macam ilmu yang ada di depanmu. Kalau maumu baik, segala ilmu yang baik itu ada. Tetapi kalau mau keburukan, segala ilmu yang buruk pun ada. Itu pilihanmu. Cita-cita pun berbeda. Cita-cita tertinggi siang dan cita-cita tertinggi malam itu sudah berbeda. Cita-cita tertinggi tingkat RT dan cita-cita tertinggi tingkat universitas tentu berbeda juga. Surga dari sudut pandang tiap orang juga berbeda. Orang Arab di gurun, melihat oasis, itulah surge menurut mereka. Surga kita, orang yang percaya pada agama adalah apa yang terdapat di Kitab Suci. Membahas tentang Kitab Suci, Prof. Marsigit kemudian menceritakan pengalamannya tidur di kuburan. Beliau sangat penasaran, apa yang membuat banyak orang takut di kuburan. Ternyata beliau mengaku menemukan apa yang ditakutkan oleh orang-orang. Sesuatu yang menakutkan memang menantang untuk dipelajari. Tetapi tetap harus dalam lindungan doa. Prof. Marsigit juga menceritakan banyak pengalaman yang cukup menantang di masa kecilnya. Pengalaman-pengalaman masa kecil itulah yang membangun pengetahuan beliau hingga sekarang ini. Kami terus diingatkan bahwa sebenar-benar hidup kita adalah pertanyaan. Ilmu itu pertanyaan. Tanya terus, itu metode Socrates. Karena itulah setelah selesai mengerjakan soal jawaban singkat, kami diminta untuk bertanya.

Pertanyaan pertama mengenai intuisi. Setiap orang memiliki intuisi. Dapatkah intuisi dapat menentang orang tersebut?
Setiap orang pasti memiliki intuisi. Salah satu komponen intuisi adalah ingatan. Intuisi ini dibangun lewat pengalaman. “Saya membaca halaman 10, saya mengerti karena saya masih ingat isi halaman 5”. Intuisi tidak sekedar ingatan. Intuisi itu produk dari ingatan, pengetahuan dan pengalaman. Intuisi pejabat, intuisi jenderal, intuisi prajurit itu berbeda. Intuisi yang paling mudah itu intuisi tentnag arah, ruang dan waktu. Kita dapat bangun pagi tanpa jam weker itu tandanya kita punya intuisi. Untuk menghitung kebutuhan makan, uang dan lain-lain juga kita membutuhkan intuisi. Mengetahui arah jalan tanpa menggunakan google maps juga membutuhkan intuisi. Jika intuisi kita kuat, kita pun bisa melihat wajah orang berbohong, wajah tukang selingkuh dan lain-lain. Jika kita berbuat jahat, kita menghilangkan intuisi. Intuisi dalam diri pasti mengarahkan kita untuk berbuat baik, bukan berbuat jahat. Jika kau ingin berbuat jahat, maka tak sehatlah intuisimu. Intuisi itu penting sekali. Kita mengerti sayang itu seperti apa, tapi tak perlu didefinisikan. Kita sudah punya intuisi tentang kasih sayang tersebut.

Pertanyaan kedua, mengenai agama Konghucu. Apa benar Agama Konghucu itu berasal dari filsafat?
Kalau urusan agama, itu domainnya ada di batin. Secara filsafat pendekatannya ada rumus filsafatnya:
Sehebat-hebat gerakanku tidak bisa mengejar tulisanku. Sehebat-hebat tulisanku tak kan bisa mengejar perkataanku. Sehebat-hebat perkataanku, tak kan mampu mengejar pikiranku. Sehebat-hebat pikiranku tidak mungkin mengetahui semua relung hatiku.
Sebenar-benar agama duduknya dalam hati kita masing-masing. Maka jangan kita menggunakan hanya pikiran untuk belajar agama. Karena agama ada dalam hati, dan kita harus yakin. Keyakinan kita itulah adalah landasan agama. Filsafat itu mempunyai pengikut masing-masing. Ketika orang mencari identitas, ia akan mencari ke arah mana ia akan ikut. Konghucu itu ada tokohnya, Konfusius. Tokoh itu punya kebajikan-kebajikan, pengalaman. Dimensi dalam hal tertentu baik dipandang orang, maka banyak yang mengikutnya.

Di filsafat ada tingkatan material sampai spiritual, jika orang mempelajari ilmu kekebalan, dan semacamnya, menurut filsafat mereka masuk pada tingkatan mana?
Hal itu adalah intuisi, yang naik dari subyektif lalu obyektif. Intuisi itu bisa berkembang, dimulai dari sesuatu yang berirama. Setiap musik pasti berirama, ketika musik dimainkan terus menerus maka orang lama-lama bisa kesurupan, tak sadarkan diri. Hal-hal tersebut dapat tercipta juga dari kebudayaan yang ada disekitar.

Kalau orang kesurupan apakah memang dimasukan makhluk gaib, atau pikirannya saja diganggu?
Orang yang bisa bertanya tentang kesurupan tak akan bisa kesurupan. Kalau bisa bertanya maka dapat berpikir, maka tak kan kesurupan. Kesurupan banyak dimensinya. Kalau dari sisi filsafat dapat dilihat dalam potensi, antara potensi positif dan potensi negatif. Itupun ada dimensinya. Secara psikologis, karena pikiran kosong, kondisi lemah, fisik lemah, kontrol tubuh berkurang atau bahkan hilang hal itu membuat hilang kesadaran.

Orang yang pernah melihat hantu, berarti memang ia diijinkan Tuhan melihat, ataukah makhluk hidup itu yang sengaja memperlihatkan dirinya?
Itupun banyak dimensinya. Hal itu bisa benar-benar iya atau tidak. Tetapi, bisa pula sesuatu muncul pun ditengah-tengah keraguan. Lewat sekilas, lalu kelihatannya seperti yang lain ternyata itu bayangan. Hantu itu kan tidak sesuai ruang dan waktu, atau bahkan tidak sadar ruang dan waktunya. Jangankan hantu, bahkan kitapun manusia, jika tak sadar ruang dan waktu bisa menjadi hantu. Hantu itu juga dari pikiran kita yang “merasa”.


Merinding saya ketika memikirkan diskusi yang telah terjadi hari ini. Mistis sekali, tetapi itulah yang saya senang. Obrolan filsafat sangatlah luas dan dapat menjangkau ranah manapun. Sungguh sangat bermanfaat dan menambah pengetahuan.

No comments:

Post a Comment