"Sehebat-hebat gerakanku tidak bisa mengejar tulisanku. Sehebat-hebat tulisanku tak kan bisa mengejar perkataanku. Sehebat-hebat perkataanku, tak kan mampu mengejar pikiranku. Sehebat-hebat pikiranku tidak mungkin mengetahui semua relung hatiku."
Seperti biasa, perkuliahan diawali
dengan soal jawab singkat. Kali ini, pertanyaan-pertanyaan seputar tokoh-tokoh
filsafat. Dalam filsafat, semua yang ada dan yang mungkin ada itu ada tokohnya.
Tokohnya isi? Plato
Tokohnya wadah? Plato
Tokohnya elegi? Pak Marsigit
Tokohnya stagnan? Karl Marx
Tokohnya batu? Karl Marx
Tokohnya fiksi? Rene Descartes
Tokohnya bertanya? Socrates
Tokohnya menjawab? Socrates
Tokoh transenden? Imanuel Kant
Tokoh saklek? Aristoteles
Tokoh di luar kenyataan? Imanuel
Kant
Tokoh Sejarah? Heigl
Tokoh ragu-ragu? Rene Descartes
Tokoh kontradiksi? Imanuel Kant
Filsafat itu terserah maumu apa.
Karena kemauanmu itu mengalahkan segala macam ilmu yang ada di depanmu. Kalau
maumu baik, segala ilmu yang baik itu ada. Tetapi kalau mau keburukan, segala
ilmu yang buruk pun ada. Itu pilihanmu. Cita-cita pun berbeda. Cita-cita
tertinggi siang dan cita-cita tertinggi malam itu sudah berbeda. Cita-cita
tertinggi tingkat RT dan cita-cita tertinggi tingkat universitas tentu berbeda
juga. Surga dari sudut pandang tiap orang juga berbeda. Orang Arab di gurun,
melihat oasis, itulah surge menurut mereka. Surga kita, orang yang percaya pada
agama adalah apa yang terdapat di Kitab Suci. Membahas tentang Kitab Suci,
Prof. Marsigit kemudian menceritakan pengalamannya tidur di kuburan. Beliau
sangat penasaran, apa yang membuat banyak orang takut di kuburan. Ternyata
beliau mengaku menemukan apa yang ditakutkan oleh orang-orang. Sesuatu yang
menakutkan memang menantang untuk dipelajari. Tetapi tetap harus dalam
lindungan doa. Prof. Marsigit juga menceritakan banyak pengalaman yang cukup
menantang di masa kecilnya. Pengalaman-pengalaman masa kecil itulah yang
membangun pengetahuan beliau hingga sekarang ini. Kami terus diingatkan bahwa
sebenar-benar hidup kita adalah pertanyaan. Ilmu itu pertanyaan. Tanya terus,
itu metode Socrates. Karena itulah setelah selesai mengerjakan soal jawaban
singkat, kami diminta untuk bertanya.
Pertanyaan pertama mengenai intuisi.
Setiap orang memiliki intuisi. Dapatkah intuisi dapat menentang orang tersebut?
Setiap orang pasti memiliki intuisi.
Salah satu komponen intuisi adalah ingatan. Intuisi ini dibangun lewat
pengalaman. “Saya membaca halaman 10, saya mengerti karena saya masih ingat isi
halaman 5”. Intuisi tidak sekedar ingatan. Intuisi itu produk dari ingatan,
pengetahuan dan pengalaman. Intuisi pejabat, intuisi jenderal, intuisi prajurit
itu berbeda. Intuisi yang paling mudah itu intuisi tentnag arah, ruang dan
waktu. Kita dapat bangun pagi tanpa jam weker itu tandanya kita punya intuisi.
Untuk menghitung kebutuhan makan, uang dan lain-lain juga kita membutuhkan
intuisi. Mengetahui arah jalan tanpa menggunakan google maps juga membutuhkan
intuisi. Jika intuisi kita kuat, kita pun bisa melihat wajah orang berbohong,
wajah tukang selingkuh dan lain-lain. Jika kita berbuat jahat, kita
menghilangkan intuisi. Intuisi dalam diri pasti mengarahkan kita untuk berbuat
baik, bukan berbuat jahat. Jika kau ingin berbuat jahat, maka tak sehatlah
intuisimu. Intuisi itu penting sekali. Kita mengerti sayang itu seperti apa,
tapi tak perlu didefinisikan. Kita sudah punya intuisi tentang kasih sayang
tersebut.
Pertanyaan kedua, mengenai agama
Konghucu. Apa benar Agama Konghucu itu berasal dari filsafat?
Kalau urusan agama, itu domainnya
ada di batin. Secara filsafat pendekatannya ada rumus filsafatnya:
Sehebat-hebat gerakanku tidak bisa
mengejar tulisanku. Sehebat-hebat tulisanku tak kan bisa mengejar perkataanku. Sehebat-hebat
perkataanku, tak kan mampu mengejar pikiranku. Sehebat-hebat pikiranku tidak
mungkin mengetahui semua relung hatiku.
Sebenar-benar agama duduknya dalam
hati kita masing-masing. Maka jangan kita menggunakan hanya pikiran untuk
belajar agama. Karena agama ada dalam hati, dan kita harus yakin. Keyakinan kita
itulah adalah landasan agama. Filsafat itu mempunyai pengikut masing-masing. Ketika
orang mencari identitas, ia akan mencari ke arah mana ia akan ikut. Konghucu
itu ada tokohnya, Konfusius. Tokoh itu punya kebajikan-kebajikan, pengalaman.
Dimensi dalam hal tertentu baik dipandang orang, maka banyak yang mengikutnya.
Di filsafat ada tingkatan material
sampai spiritual, jika orang mempelajari ilmu kekebalan, dan semacamnya,
menurut filsafat mereka masuk pada tingkatan mana?
Hal itu adalah intuisi, yang naik
dari subyektif lalu obyektif. Intuisi itu bisa berkembang, dimulai dari sesuatu
yang berirama. Setiap musik pasti berirama, ketika musik dimainkan terus
menerus maka orang lama-lama bisa kesurupan, tak sadarkan diri. Hal-hal
tersebut dapat tercipta juga dari kebudayaan yang ada disekitar.
Kalau orang kesurupan apakah memang
dimasukan makhluk gaib, atau pikirannya saja diganggu?
Orang yang bisa bertanya tentang
kesurupan tak akan bisa kesurupan. Kalau bisa bertanya maka dapat berpikir,
maka tak kan kesurupan. Kesurupan banyak dimensinya. Kalau dari sisi filsafat
dapat dilihat dalam potensi, antara potensi positif dan potensi negatif. Itupun
ada dimensinya. Secara psikologis, karena pikiran kosong, kondisi lemah, fisik
lemah, kontrol tubuh berkurang atau bahkan hilang hal itu membuat hilang
kesadaran.
Orang yang pernah melihat hantu,
berarti memang ia diijinkan Tuhan melihat, ataukah makhluk hidup itu yang
sengaja memperlihatkan dirinya?
Itupun banyak dimensinya. Hal itu bisa
benar-benar iya atau tidak. Tetapi, bisa pula sesuatu muncul pun
ditengah-tengah keraguan. Lewat sekilas, lalu kelihatannya seperti yang lain
ternyata itu bayangan. Hantu itu kan tidak sesuai ruang dan waktu, atau bahkan
tidak sadar ruang dan waktunya. Jangankan hantu, bahkan kitapun manusia, jika
tak sadar ruang dan waktu bisa menjadi hantu. Hantu itu juga dari pikiran kita
yang “merasa”.
Merinding saya ketika memikirkan
diskusi yang telah terjadi hari ini. Mistis sekali, tetapi itulah yang saya
senang. Obrolan filsafat sangatlah luas dan dapat menjangkau ranah manapun.
Sungguh sangat bermanfaat dan menambah pengetahuan.
No comments:
Post a Comment