Monday, January 1, 2018

Menembus ruang dan waktu; kuliah terakhir bersama Pak direktur (Refleksi kuliah filsafat ketigabelas)

"Manusia itu harus tiada henti-hentinya menuntut ilmu, sesuai dengan ruang dan waktunya."


Perkuliahan langsung berfokus pada tanya jawab. Pertama-tama, kami membahas mengenai wayang. Muncul pertanyaan mengapa tokoh gareng, semar, petruk dan bagong selalu di pertengahan pertunjukan, tak di awal tak di akhir? Awal pertunjukan itu yang jahat yang ditampilkan. Yang akhir yang baik-baik. Semar itu perbatasan, oleh karena itu tersamar. Tersamar itu wajib digali dan dicari. Maka Ilmu itu harus digali dan dicari. Di awal dan akhirnya itu sintesis, dalam wayang goro-goro. Maka barang siapa mampu melewati batas, maka ia akan mencapai sesuatu yang lebih tinggi. Itulah menembus ruang dan waktu. Setiap hal itu pasti ada batasnya. Ketika kita menderita, jalani saja. Semua ada barokahnya hanya kita belum paham. Antara cita-cita dan kenyataan kita punya skill, kepandaian. Tetapi kita tidak boleh ngege mongso, mendahului kehendak Tuhan. Kita mengeluh, marah, apalagi bertengkar, memaksakan kehendak itu termasuk mendahului kehendak Tuhan. Setiap hari kita harus selalu bersyukur kepada Tuhan. Semua yang ada itu adalah buah dari keikhlasan. Termasuk ikhlas untuk berjuang mengisi hidup, yang ontologis. Yang sulit, mudah, biasa, tidak biasa dihermenetikan.

Setelah itu, kami membahas mengenai bagaimana filsafat memandang Hypothetical learning projectory. Yang dimaksud dengan Hypothetical learning projectory adalah mengembangkan kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi di kelas. Apakah efektif? Hal ini tergantung niat. Tetapi kadang orang juga tak mengerti niat. Teacher is a researcher. Guru itu bukan zamannya lagi hanya berkutat pada mengubah tingkah laku siswa, membuat siswa “mampu ini, mampu itu”, tapi harus meneliti. Bukan meneliti yang absolut, dipaksakan, tetapi dilihat harus menyesuaikan dengan kenyataan. Seorang researcher harus inovatif, dan peduli terhadap fenomena, melihat kenyataan.  Inovatif itu harus sesuai dengan ruang dan waktu, melihat pada kenyataannya siapa yang kita hadapi. Manusia itu harus tiada henti-hentinya menuntut ilmu, sesuai dengan ruang dan waktunya.

Sayangnya perkuliahan kali ini sangat singkat, karena kesibukan Pak Direktur yang harus menguji disertasi. Hari ini hari terakhir kami kuliah filsafat. Dari berbagai hal yang saya dapat dari filsafat, saya merasa bagaimana kita menembus ruang dan waktu adalah hal yang paling mendasar dan menandakan kita berkembang. Saya juga menembus ruang dan waktu saya, yang awalnya takut dengan filsafat, menjadi enjoy dan merasakan manfaat refleksi mendalam dalam filsafat.

No comments:

Post a Comment