"Manusia itu harus tiada henti-hentinya menuntut ilmu, sesuai dengan ruang dan waktunya."
Perkuliahan langsung berfokus pada
tanya jawab. Pertama-tama, kami membahas mengenai wayang. Muncul pertanyaan mengapa
tokoh gareng, semar, petruk dan bagong selalu di pertengahan pertunjukan, tak
di awal tak di akhir? Awal pertunjukan itu yang jahat yang ditampilkan. Yang
akhir yang baik-baik. Semar itu perbatasan, oleh karena itu tersamar. Tersamar
itu wajib digali dan dicari. Maka Ilmu itu harus digali dan dicari. Di awal dan
akhirnya itu sintesis, dalam wayang goro-goro. Maka barang siapa mampu melewati
batas, maka ia akan mencapai sesuatu yang lebih tinggi. Itulah menembus ruang
dan waktu. Setiap hal itu pasti ada batasnya. Ketika kita menderita, jalani
saja. Semua ada barokahnya hanya kita belum paham. Antara cita-cita dan
kenyataan kita punya skill, kepandaian. Tetapi kita tidak boleh ngege mongso,
mendahului kehendak Tuhan. Kita mengeluh, marah, apalagi bertengkar, memaksakan
kehendak itu termasuk mendahului kehendak Tuhan. Setiap hari kita harus selalu
bersyukur kepada Tuhan. Semua yang ada itu adalah buah dari keikhlasan.
Termasuk ikhlas untuk berjuang mengisi hidup, yang ontologis. Yang sulit,
mudah, biasa, tidak biasa dihermenetikan.
Setelah itu, kami membahas mengenai
bagaimana filsafat memandang Hypothetical learning projectory. Yang dimaksud
dengan Hypothetical learning projectory adalah mengembangkan
kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi di kelas. Apakah efektif? Hal ini tergantung
niat. Tetapi kadang orang juga tak mengerti niat. Teacher is a researcher. Guru
itu bukan zamannya lagi hanya berkutat pada mengubah tingkah laku siswa,
membuat siswa “mampu ini, mampu itu”, tapi harus meneliti. Bukan meneliti yang
absolut, dipaksakan, tetapi dilihat harus menyesuaikan dengan kenyataan.
Seorang researcher harus inovatif, dan peduli terhadap fenomena, melihat
kenyataan. Inovatif itu harus sesuai
dengan ruang dan waktu, melihat pada kenyataannya siapa yang kita hadapi.
Manusia itu harus tiada henti-hentinya menuntut ilmu, sesuai dengan ruang dan
waktunya.
Sayangnya perkuliahan kali ini
sangat singkat, karena kesibukan Pak Direktur yang harus menguji disertasi.
Hari ini hari terakhir kami kuliah filsafat. Dari berbagai hal yang saya dapat
dari filsafat, saya merasa bagaimana kita menembus ruang dan waktu adalah hal
yang paling mendasar dan menandakan kita berkembang. Saya juga menembus ruang
dan waktu saya, yang awalnya takut dengan filsafat, menjadi enjoy dan merasakan
manfaat refleksi mendalam dalam filsafat.
No comments:
Post a Comment