"Sama seperti gunung api, jika kita hanya terus mengajar dan belajar tentang hal-hal formal, maka masalah-masalah pendidikan ini akan dapat meletus seperti gunung api."
Hari ini Prof. Marsigit menanyakan siapa di antara kami yang membawa laptop. Saya yang baru saja mengerjakan tugas mengangkat tangan dan diminta mempersiapkan laptop saya untuk menayangkan materi perkuliahan. Saya bertanya apakah saya harus kembali ke tempat duduk atau tetap berada di depan. "Kamu di sini saja, jadi operator. Kapan lagi jadi asisten Profesor?"
Hal ini menggelitik saya, saya sangat megagumi banyak Profesor dan bercita-cita agar suatu hari saya bisa menjadi Profesor. Mungkin jadi asisten Profesor adalah salah satu cara saya belajar untuk menggapai impian saya tersebut.
Hermenitika menjadi pokok bahasan pertama kami. Awalnya saya memang bingung apa sebenarnya itu hermenitika. Hermenitika itu keadaan menjelaskan dan dijelaskan. Bagaimana hidup berjalan seperti spiral, lingkaran, tetapi juga garis lurus. Lingkaran karena banyak kejadian yang berulang, contohnya kuliah bersama Prof Marsigit setiap hari Rabu. Tetapi, hidup merupakan garis lurus pula, karena Rabu yang hari ini berbeda dengan rabu pekan lalu dan tentu akan berbeda dengan Rabu yang akan datang. Maka tak berhentilah proses interpretasi dari kehidupan ini.
Pembelajaran itu seperti gunung es, yang kita pelajari seringkalli hanya simbol-simbol saja. Di dalam air itu ada banyak model dan aplikasinya dalam kehidupan sehari-hari. Banyak yang bisa dibahas dari satu pembelajaran. Jika hanya mempelajari simbol, sesungguhnya hanya formal saja yang baru tersentuh. Di bawah terdapat banyak hal yang lebih penting untuk dipelajari. Menggunakan alat peraga, menggunakan aplikasi sosial, hal-hal ini akan lebih mendalam dimengerti siswa ketika belajar.
Di Indonesia, gunung es itu tidak terlalu dikenal. Orang lebih mengenal adanya gunung api. Sama seperti gunung api, jika kita hanya terus mengajar dan belajar tentang hal-hal formal, maka masalah-masalah pendidikan ini akan dapat meletus seperti gunung api.
Problematika pembelajaran matematika di Indonesia kebanyakan terjadi karena guru hanya mentransfer pegetahuannya kepada siswanya. Sementara konstruktivis yang seharusnya adalah bagaimana guru sebagai pohon yang menghasilkan buah, lalu buah tersebut berkembang menjadi pohon baru setelah buahnya jatuh ke tanah.
Konstruktivisme merupakan pembelajaran yang dapat menjadi model pembelajaran utama yang dapat mengatasi masalah pendidikan di banyak tempat, termasuk Indonesia.. Hanya mengubah pandangan para guru saja yang sulit untuk diubah. Terlalu asyik mengajar dengan cara konvensional. Inilah yang harus menjadi tugas utama para pendidik dan evaluator pendidikan di Indonesia.
No comments:
Post a Comment