Monday, January 1, 2018

Kuliah Sambil Berdiri (Refleksi Filsafat Kesepuluh)

"Masalah pendidikan ini semakin hari semakin berpotensi untuk menjadi bom waktu, yang akan meledak jika tidak ditangani dengan cepat."


Hari ini kuliah tidak dimulai dengan kuis. Kami langsung berdiskusi yang dipimpin oleh Prof. Marsigit. Diskusi kami ditemani dengan manisnya permen yang diberikan Prof. diawal perkuliahan.

Filsafat kontemporer

Pengecapan kita terhadap permen yang diberikan oleh Prof. Marsigit adalah pengalaman. Sebenar-benar pengetahuan menurut Bloom adalah pengalaman. Yang jadi masalah dalam filsafat ialah memahami kenyataan dan menjelaskan pikiran. Maka yang sudah anda ketahui di pikiran anda itu, harus dijelaskan. Seribu satu penjelasan anda itu tak cukup. Penjelasan itu di bumi, gagasan itu di langit. Semua penjelasan itu ada di bumi, menjelaskan apa yang ada di langit.
Setiap saat kita selalu mengambil keputusan. Kita ada saat ini merupakan akumulasi dari bermlyar-milyar keputusan. Orang cerdas adalah orang yang bisa mengambil keputusan. Sebenar-benar bodoh atau mitos adalah orang yang tak bisa mengambil keputusan. Jelas itu ketika sudah tidak ada lagi keputusan. Maka menjadi jelas itu cukup berbahaya untuk ranah pikiran dan filsafat sesuai dengan ruang dan waktu. Apa yang terjadi saat Indonesia berdiri, itupun mempengaruhi kehidupan kita sekarang ini. Indonesia dahulu tidak menyadari pengaruh asing, namun sekarang tidak kuasa akan pengaruh asing. Apa yang harus dilakukan? Mengambil yang baik, tinggalkan yang buruk. Sejak dahulu Indonesia selalu berada di tengah-tengah. Di tengah-tengah sebenarnya ilmu, jika kita mampu. Maka kita harus bisa mempertahankan apa yang baik. Di Indonesia kita mudah sekali bicara tentang demokrasi, tapi harus benar-benar dipikirkan apakah demokrasi sesungguhnya telah terjadi dengan baik. Yang menjadi kenyataan di Indonesia, pendidikan belum mencapai demokrasinya. Dalam pendidikan, kita sekarang sedang mengalami krisis multi dimensi, yang bergelut dengan KKN, kecurangan dan lain-lain. Anak-anak itu berpijak di bumi. Pendidikan untuk anak-anak bukan hanya disiplin ilmu, tetapi aktivitas belajar. Indonesia belum mencapai demokrasi dalam pendidikan.

Di tengah perkuliahan, kami diminta untuk kuliah sambil berdiri.

Metode belajar yang baik adalah konstruktivisme. Konstruktivisme itu belajar dengan membangun. Hal ini membela kepentingan anak-anak, kepentingan orang kecil. Model belajar yang ada itu kebanyakan adalah ambisi orangtua. Mereka lebih berorientasi pada industri. Ketika belajar hanya memfasilitasi anak, kurang produktif dalam pandangan orangtua dan industry. Untuk mewujudkan suatu sistem yang sehat itu tak mudah. Negara saja sulit menciptakan sistem yang sehat. Mewujudkan pembelajaran inovatif hanya dari sisi guru saja, yang lain belum tentu mendukung. Sehatnya system ini banyak komponen, tak hanya guru saja.
Kedudukan siswa itu tergantung kepentingannya. Jika kepentingan ada pada ambisi oragtua, ambisi negara, ambisi system itu objeknya akan dibuat sedemikian rupa sesuai dengan keinginan orangtua. Ketika kita ingin berinovasi berorientasi kepada siswa, banyak hal yang dipertimbangkan dan dikritisi. Kapan selesainya? Mana produknya? Tak mudah melakukan inovasi pendidikan. Membuat alat peraga seharusnya adalah kreativitas guru sendiri. Pemikiran yang pendek mengenai bantuan alat peraga adalah contoh kurangnya inisiatif dan kreativitas guru. Kepentingan siapakah yang dibela guru sangat berpengaruh dalam terwujudnya inovasi pendidikan ini. Kepentingan beberapa pihak menjadi lebih penting dibandingkan kepentingan siswa. Prof. Marsigit kemudian menunjukkan video tentang seorang profesor dari Jepang yang menggunakan kreativitasnya dalam membuat alat peraga. Beliau menggunakan alat-alat bekas untuk menjelaskan hukum-hukum fisika. Inovasi itu tergantung kreativitas. Guru harus mampu melihat ke lingkungan sekitar, apa yang dapat digunakan sebagai alat peraga. LKS seharusnya dibuat sendiri oleh guru, bukan komersil distandarkan untuk semuanya.

Setelah melihat kritisasi dan evaluasi pendidikan Indonesia yang ada hubungannya dengan filsafat
kontemporer, kami kembali berdiskusi mengenai pertanyaan-pertanyaan yang kami ajukan.

Pertanyaan pertama :
Saya pernah menemukan orangtua yang menuntut anaknya memiliki kemampuan di luar batasnya. Bagaimana pandangan filsafat terhadap hal tersebut?
Sifat manusia seperti itu ingin melebihi kemampuannya, karena manusia punya keterbatasan. Oleh karena itu kendalanya adalah ketidaktepatan, inappropriate. Kalau untuk diri sendiri tak masalah, tapi itu adalah kejam jika tidak tepat mempengaruhi orang lain. Apalagi jika orang lain tersebut memang dapat kita kuasai. Ketika kita menuntut anak untuk menjadi hebat, sakti, dll. Padahal jika ia memiliki anak yang sakti, ia pun akan mendapat masalah. Orangtua kadang tak menyadari bahwa yang diinginkannya juga akan membuatnya dalam posisi sulit. Oleh karena itu, filsafat dapat membantu kita menyadarinya.

Pertanyaan kedua:
Sistem pendidikan di Inggris seperti apa yang dapat menjadi solusi pembelajaran di Indonesia?
Di seluruh dunia terkena tekanan ekonomi. Karena tekanan ekonomi, pemerintah tidak bisa lama-lama mendengar suara rakyat, mahasiswa, siswa. Mereka tak bisa bersantai-santai melayani kebutuhan siswa. Saat Prof. Marsigit kuliah di Inggris, sistem pendidikannya tidak sentalisasi tetapi menggunakan otonomi pendidikan. Semua pembelajaran diserahkan kepada sekolah sehingga kurikulum tiap sekolah berbeda. Untuk menjadi guru, guru harus magang ke sekolah. Tetapi sekitar sepuluh tahun yang lalu mulai terjadi pergeseran. Oleh karena itu, sekolah mulai mengalami sentralisasi, agar penangananya cepat. Adanya brexit juga membuat situasi ekonomi di Inggris mulai tegang dan membuat pendidikan menjadi kompetitif. Sama halnya dengn di Jepang, pengembangan pendidikan juga harus terkait dengan ekonomi. Guru survive karena ada produknya, ada kreativitasnya. Indonesia sedang menuju ke sana. Sebenar-benar dirimu adalah kreatifitasmu. Kreatif itu berarti tidak hanya lulus S2 mengandalkan menjadi PNS, tetapi membuat produk yang bisa berkembang.

Pertanyaan ketiga:
Apakah program SM3T efektif untuk memeratakan pendidikan di Indonesia?
Kendalanya memang hanya sebentar, tetapi paling tidak di daerah tersebut sudah pernah terjamah oleh pendidikan. Persoalan kita adalah karena terlalu banyak penduduk. Terlalu banyak lulusan membuat pemerintah bingung dan banyak menghindari tanggungjawab mensejahterakan guru. Seharusnya pendidikan menjadi prioritas, dalam politik pula. Masalah pendidikan ini semakin hari semakin berpotensi untuk menjadi bom waktu, yang akan meledak jika tidak ditangani dengan cepat.


No comments:

Post a Comment