"Masalah pendidikan ini semakin hari semakin berpotensi untuk menjadi bom waktu, yang akan meledak jika tidak ditangani dengan cepat."
Hari ini kuliah tidak dimulai dengan
kuis. Kami langsung berdiskusi yang dipimpin oleh Prof. Marsigit. Diskusi kami
ditemani dengan manisnya permen yang diberikan Prof. diawal perkuliahan.
Filsafat kontemporer
Pengecapan kita
terhadap permen yang diberikan oleh Prof. Marsigit adalah pengalaman.
Sebenar-benar pengetahuan menurut Bloom adalah pengalaman. Yang jadi masalah
dalam filsafat ialah memahami kenyataan dan menjelaskan pikiran. Maka yang
sudah anda ketahui di pikiran anda itu, harus dijelaskan. Seribu satu
penjelasan anda itu tak cukup. Penjelasan itu di bumi, gagasan itu di langit.
Semua penjelasan itu ada di bumi, menjelaskan apa yang ada di langit.
Setiap saat kita selalu
mengambil keputusan. Kita ada saat ini merupakan akumulasi dari bermlyar-milyar
keputusan. Orang cerdas adalah orang yang bisa mengambil keputusan.
Sebenar-benar bodoh atau mitos adalah orang yang tak bisa mengambil keputusan.
Jelas itu ketika sudah tidak ada lagi keputusan. Maka menjadi jelas itu cukup
berbahaya untuk ranah pikiran dan filsafat sesuai dengan ruang dan waktu. Apa
yang terjadi saat Indonesia berdiri, itupun mempengaruhi kehidupan kita
sekarang ini. Indonesia dahulu tidak menyadari pengaruh asing, namun sekarang
tidak kuasa akan pengaruh asing. Apa yang harus dilakukan? Mengambil yang baik,
tinggalkan yang buruk. Sejak dahulu Indonesia selalu berada di tengah-tengah.
Di tengah-tengah sebenarnya ilmu, jika kita mampu. Maka kita harus bisa
mempertahankan apa yang baik. Di Indonesia kita mudah sekali bicara tentang
demokrasi, tapi harus benar-benar dipikirkan apakah demokrasi sesungguhnya
telah terjadi dengan baik. Yang menjadi kenyataan di Indonesia, pendidikan
belum mencapai demokrasinya. Dalam pendidikan, kita sekarang sedang mengalami
krisis multi dimensi, yang bergelut dengan KKN, kecurangan dan lain-lain.
Anak-anak itu berpijak di bumi. Pendidikan untuk anak-anak bukan hanya disiplin
ilmu, tetapi aktivitas belajar. Indonesia belum mencapai demokrasi dalam
pendidikan.
Di tengah
perkuliahan, kami diminta untuk kuliah sambil berdiri.
Metode belajar yang
baik adalah konstruktivisme. Konstruktivisme itu belajar dengan membangun. Hal
ini membela kepentingan anak-anak, kepentingan orang kecil. Model belajar yang
ada itu kebanyakan adalah ambisi orangtua. Mereka lebih berorientasi pada
industri. Ketika belajar hanya memfasilitasi anak, kurang produktif dalam
pandangan orangtua dan industry. Untuk mewujudkan suatu sistem yang sehat itu
tak mudah. Negara saja sulit menciptakan sistem yang sehat. Mewujudkan
pembelajaran inovatif hanya dari sisi guru saja, yang lain belum tentu
mendukung. Sehatnya system ini banyak komponen, tak hanya guru saja.
Kedudukan siswa itu
tergantung kepentingannya. Jika kepentingan ada pada ambisi oragtua, ambisi
negara, ambisi system itu objeknya akan dibuat sedemikian rupa sesuai dengan
keinginan orangtua. Ketika kita ingin berinovasi berorientasi kepada siswa,
banyak hal yang dipertimbangkan dan dikritisi. Kapan selesainya? Mana produknya?
Tak mudah melakukan inovasi pendidikan. Membuat alat peraga seharusnya adalah
kreativitas guru sendiri. Pemikiran yang pendek mengenai bantuan alat peraga
adalah contoh kurangnya inisiatif dan kreativitas guru. Kepentingan siapakah
yang dibela guru sangat berpengaruh dalam terwujudnya inovasi pendidikan ini. Kepentingan
beberapa pihak menjadi lebih penting dibandingkan kepentingan siswa. Prof.
Marsigit kemudian menunjukkan video tentang seorang profesor dari Jepang yang
menggunakan kreativitasnya dalam membuat alat peraga. Beliau menggunakan
alat-alat bekas untuk menjelaskan hukum-hukum fisika. Inovasi itu tergantung
kreativitas. Guru harus mampu melihat ke lingkungan sekitar, apa yang dapat
digunakan sebagai alat peraga. LKS seharusnya dibuat sendiri oleh guru, bukan
komersil distandarkan untuk semuanya.
Setelah
melihat kritisasi dan evaluasi pendidikan Indonesia yang ada hubungannya dengan
filsafat
kontemporer,
kami kembali berdiskusi mengenai pertanyaan-pertanyaan yang kami ajukan.
Pertanyaan pertama :
Saya pernah menemukan
orangtua yang menuntut anaknya memiliki kemampuan di luar batasnya. Bagaimana
pandangan filsafat terhadap hal tersebut?
Sifat manusia seperti
itu ingin melebihi kemampuannya, karena manusia punya keterbatasan. Oleh karena
itu kendalanya adalah ketidaktepatan, inappropriate. Kalau untuk diri sendiri
tak masalah, tapi itu adalah kejam jika tidak tepat mempengaruhi orang lain.
Apalagi jika orang lain tersebut memang dapat kita kuasai. Ketika kita menuntut
anak untuk menjadi hebat, sakti, dll. Padahal jika ia memiliki anak yang sakti,
ia pun akan mendapat masalah. Orangtua kadang tak menyadari bahwa yang
diinginkannya juga akan membuatnya dalam posisi sulit. Oleh karena itu,
filsafat dapat membantu kita menyadarinya.
Pertanyaan kedua:
Sistem pendidikan di
Inggris seperti apa yang dapat menjadi solusi pembelajaran di Indonesia?
Di seluruh dunia
terkena tekanan ekonomi. Karena tekanan ekonomi, pemerintah tidak bisa
lama-lama mendengar suara rakyat, mahasiswa, siswa. Mereka tak bisa
bersantai-santai melayani kebutuhan siswa. Saat Prof. Marsigit kuliah di
Inggris, sistem pendidikannya tidak sentalisasi tetapi menggunakan otonomi
pendidikan. Semua pembelajaran diserahkan kepada sekolah sehingga kurikulum
tiap sekolah berbeda. Untuk menjadi guru, guru harus magang ke sekolah. Tetapi
sekitar sepuluh tahun yang lalu mulai terjadi pergeseran. Oleh karena itu,
sekolah mulai mengalami sentralisasi, agar penangananya cepat. Adanya brexit
juga membuat situasi ekonomi di Inggris mulai tegang dan membuat pendidikan
menjadi kompetitif. Sama halnya dengn di Jepang, pengembangan pendidikan juga
harus terkait dengan ekonomi. Guru survive karena ada produknya, ada
kreativitasnya. Indonesia sedang menuju ke sana. Sebenar-benar dirimu adalah
kreatifitasmu. Kreatif itu berarti tidak hanya lulus S2 mengandalkan menjadi
PNS, tetapi membuat produk yang bisa berkembang.
Pertanyaan ketiga:
Apakah program SM3T
efektif untuk memeratakan pendidikan di Indonesia?
Kendalanya memang
hanya sebentar, tetapi paling tidak di daerah tersebut sudah pernah terjamah
oleh pendidikan. Persoalan kita adalah karena terlalu banyak penduduk. Terlalu
banyak lulusan membuat pemerintah bingung dan banyak menghindari tanggungjawab
mensejahterakan guru. Seharusnya pendidikan menjadi prioritas, dalam politik
pula. Masalah pendidikan ini semakin hari semakin berpotensi untuk menjadi bom
waktu, yang akan meledak jika tidak ditangani dengan cepat.
No comments:
Post a Comment