“Gengsi dapat 0? Saya memang sengaja membuat nilaimu 0 supaya gengsimu hilang. Tak boleh ada gengsi di sini. Cari ilmu tak perlu gengsi.”
Seperti biasa, perkuliahan dimulai
dengan tes jawab singkat. Tes jawab singkat membahas seputar sebab dan akibat.
25 soal jawab singkat kami jawab dengan penuh rasa deg-degan karena memang
terasa sulit untuk menjawabnya. Sebab akibat, akibat sebab, tanpa sebab, sebab
tanpa, tanpa akibat, akibat tanpa.. semua terasa membingungkan dalam pikiran
saya. Memahami soalnya saja sulit, apalagi menjawabnya.
Apakah sebab?
Sebab adalah pondamen.
Apakah akibat?
Akibat itu belum tentu sebab.
Cukup sulit bagi saya menerima
jawaban tersebut. Tetapi hal ini mudah dipahami ketika Prof. Marsigit
memberikan penjelasan sebagai berikut: “kalau aku punya batu, aku lempar lalu
kena kaca dan kacanya pecah, secara filsafat, kaca itu pecah belum tentu karena
batu. Mungkin saja ada saat yang sama orang menembak kaca itu. Siapa yang tau?
Segala mungkin kemungkinan diberi cadangan. Maka akibat itu belum tentu sebab.
Kalau setiap akibat dicari sebabnya, kita akan pusing sendiri, tidak percaya
lagi dengan Tuhan. Tidak semua hal perlu dicari sebabnya.”
Betapa saya sangat kagum dengan
penjelasan ini. Selama ini saya sering mencari-cari alasan dari segala hal yang
terjadi dalam kehidupan saya. Mengapa ini seperti ini, mengapa itu seperti itu,
mengapa berakhir seperti ini, mengapa saya tidak diizinkan untuk seperti ini.
Saya baru sadar betapa saya telah berlaku seperti orang yang tak percaya pada
Tuhan. Bertanya memang tidak salah, dan proses dari kehidupan saya yang memang
harus terjadi, karena toh saya memiliki pikiran saya sendiri. Tetapi, ketika
saya tidak menerima apa yang telah terjadi dalam kehidupan saya, saya
sesungguhnya telah meragukan takdir Tuhan. Refleksi mendalam saya dalam hati
saya cerminkan dalam rekahan sebuah senyum. Berjanji saya dalam hati untuk
lebih berhati-hati dalam berpikir, mengingat-ingat bahwa tidak semua hal perlu
dicari sebabnya.
Diskusi selanjutnya adalah mengenai
jawaban dari soal jawab singkat yang diberikan. Dari 25 soal, tak ada soal yang
berhasil saya jawab dengan benar. Nilai 0 pun saya dapatkan. Tetapi saya akan
selalu ingat pesan Prof. Marsigit yang kurang lebih demikian: “Gengsi dapat 0?
Saya memang sengaja membuat nilaimu 0 supaya gengsimu hilang. Tak boleh ada
gengsi di sini. Cari ilmu tak perlu gengsi.”
Saya sangat menyadari bahwa ketika
saya mencari ilmu, saya tidak boleh sombong. Orang sombong tentu berpikir
dirinya sudah tahu semuanya dan akhirnya tak memiliki keinginan untuk
berkembang, walaupun sebenarnya kesombongannyalah yang membuatnya menjadi 0.
Hal ini dapat terjadi pula ketika
kita gengsi dengan wajah kita. Karena sesungguhnya dalam filsafat, cantik itu
metafisik. Apa yang terlihat cantik itu bukan wajah kita, tetapi yang ada di
balik wajah itu. Diri kita itu plural. Berubah setiap detiknya. Aku yang
absolut, aku yang diam, aku yang spiritualis, aku yang kejam, aku yang humanis,
aku yang hedonis, aku yang kapital. Sebenar-benar filsafat adalah pusat. Jika
menurut dengan pusat tersebut, maka diri kita akan terus bergeser-geser. Ada
saat menjadi diri yang humanis, ada saat menjadi diam, dan sebagainya. Kita juga dapat menjadi manusia batu.
Contohnya adalah saat sudah kuliah beberapa kali pertemuan, tetapi masih belum
membuat tugas. Menjadi manusia batu saat yang lain sudah berpikir tetapi diri
sendiri belum memulai. Ketika kita lamban berpikir itulah ketika kita menjadi
diri kita yang manusia batu. Hal ini juga terjadi ketika kita malas bertanya.
Maka sesi tanya jawab pun dimulai.
Pertanyaan pertama yang muncul
adalah “Apakah kita mencari sesuatu yang sudah ada atau yang belum ada?”. Pertanyaan
dijawab dengan penjelasan mengenai mencari. Ketika kita melibatkan diri kita
dalam mencari, kita akan mengetahui sendiri apa makna dari mencari. Kita juga
akan paham bahwa tidak mencari juga merupakan wujud dari mencari. Kalau kita diam
saja adalah mitos. Maka kita harus melibatkan diri untuk mengetahui apa yang
kita cari.
Pertanyaan tersebut menggiring
diskusi pada suatu pertanyaan “Apakah Tuhan mampu menciptakan batu yang
sedemikian besar sehingga Tuhan tidak mampu mengangkatnya?”
Jika jawabannya mampu, maka akan
timbul pertanyaan: “Masa Tuhan tidak mampu mengangkat sesuatu yang dibuatnya?”,
Jika jawabannya tidak mampu, maka akan timbul pertanyaan lain: “Masa Tuhan
tidak mampu menciptakan sesuatu?”
Sama halnya dengan pernyataan: himpunan
X yang tidak sama dengan X. Apakah mungkin X berdiri sebagai anggota X,
sekaligus mendapat identitas sebagai bukan X?
Inilah ilmu. Sebenar-benarnya ilmu
adalah kontradiksi. Ilmu itu ada diperbatasan. Untuk bisa menggapai perbatasan
ini, kita perlu menembus ruang dan waktu. Maka sebenar-benar orang cerdas
adalah orang yang dapat menempatkan diri sesuai dengan ruang dan waktu. Tidak
ada yang salah menurut filsafat, yang ada hanya saja tidak sesuai ruang dan
waktu.
Alat berfilsafat adalah Bahasa
analog, objeknya adalah yang ada dan yang mungkin ada. Objek filsafat ini mempunyai
berstruktur, sama seperti bahasanya pula. Bahasa analog orang awam itu
pengandaian. Di atas pengandaian ada perumpamaan, dan di atas perumpamaan ada
kiasan.
Pikiran manusia itu hanya seputar
urusan dunia. Kita tak bisa hanya mengandalkan pikiran saja. Karena setingi-tingginya
pikiran itu hanya urusan Dunia. Kita menerima kiasan bahwa Tuhan itu ada di
langit. Namun, Tuhan pun ada di sekitar kita, di dunia. Hal-hal inilah yang perlu
kita kelola dengan terus berhermenetika. Hermenetika itu berarti terjemahkan,
terjemahkan dan menterjemahkan. Pikiran kita mucul terus sehingga suatu saat
kita sampai pada tataran tertinggi. Saat itu terjadi, kita pun jadi sadar bahwa
aturan pun dapat bersifat kontradiksi. Tentu akan muncul pikiran bahwa agama
itu banyak, lalu bagaimana menyamakan aturannya? Pertanyaan itu sudah ada di
luar pikiran, pikiran kita tak kan bisa memikirkannya. Pertanyaan lain seperti “mengapa
Tuhan menciptakan banyak agama?” hal seperti ini bukan lagi domain pikiran,
namun domain kepercayaan kita masing-masing. Tidak berpikir itu mitos, tapi
mitos tidak dapat kita gunakan untuk masalah spiritual. Spiritual itu
keyakinan.
Sebenar-benar mitos operasional
untuk pendidikan itu ketika kita mengerjakan sesuatu tapi tak mengerti apa yang
kita kerjakan. Maka ketika kita meminta anak yang kita ajar mengerjakan sesuatu
tanpa membuat mereka mengerti apa yang mereka ajarkan, kita telah membuat
mereka terjebak dalam mitos. “Sebenar-benar filsafat itu adalah dirimu
sendiri.” Hal ini perlu diterapkan pula dalam mengajar. Mulai dengan pemahaman
bahwa setiap anak menerima pembelajaran dengan kemampuannya masing-masing,
memiliki filsafatnya masing-masing. Maka guru pun harus memfasilitasi pengembangan
filsafat masing-masing anak, sehingga anak-anak tidak terjebak dalam mitos.
No comments:
Post a Comment