Thursday, December 28, 2017

Terbiasa dapat nol (Refleksi Filsafat keempat)

“Gengsi dapat 0? Saya memang sengaja membuat nilaimu 0 supaya gengsimu hilang. Tak boleh ada gengsi di sini. Cari ilmu tak perlu gengsi.”
Seperti biasa, perkuliahan dimulai dengan tes jawab singkat. Tes jawab singkat membahas seputar sebab dan akibat. 25 soal jawab singkat kami jawab dengan penuh rasa deg-degan karena memang terasa sulit untuk menjawabnya. Sebab akibat, akibat sebab, tanpa sebab, sebab tanpa, tanpa akibat, akibat tanpa.. semua terasa membingungkan dalam pikiran saya. Memahami soalnya saja sulit, apalagi menjawabnya.
Apakah sebab?
Sebab adalah pondamen.
Apakah akibat?
Akibat itu belum tentu sebab.

Cukup sulit bagi saya menerima jawaban tersebut. Tetapi hal ini mudah dipahami ketika Prof. Marsigit memberikan penjelasan sebagai berikut: “kalau aku punya batu, aku lempar lalu kena kaca dan kacanya pecah, secara filsafat, kaca itu pecah belum tentu karena batu. Mungkin saja ada saat yang sama orang menembak kaca itu. Siapa yang tau? Segala mungkin kemungkinan diberi cadangan. Maka akibat itu belum tentu sebab. Kalau setiap akibat dicari sebabnya, kita akan pusing sendiri, tidak percaya lagi dengan Tuhan. Tidak semua hal perlu dicari sebabnya.”
Betapa saya sangat kagum dengan penjelasan ini. Selama ini saya sering mencari-cari alasan dari segala hal yang terjadi dalam kehidupan saya. Mengapa ini seperti ini, mengapa itu seperti itu, mengapa berakhir seperti ini, mengapa saya tidak diizinkan untuk seperti ini. Saya baru sadar betapa saya telah berlaku seperti orang yang tak percaya pada Tuhan. Bertanya memang tidak salah, dan proses dari kehidupan saya yang memang harus terjadi, karena toh saya memiliki pikiran saya sendiri. Tetapi, ketika saya tidak menerima apa yang telah terjadi dalam kehidupan saya, saya sesungguhnya telah meragukan takdir Tuhan. Refleksi mendalam saya dalam hati saya cerminkan dalam rekahan sebuah senyum. Berjanji saya dalam hati untuk lebih berhati-hati dalam berpikir, mengingat-ingat bahwa tidak semua hal perlu dicari sebabnya.

Diskusi selanjutnya adalah mengenai jawaban dari soal jawab singkat yang diberikan. Dari 25 soal, tak ada soal yang berhasil saya jawab dengan benar. Nilai 0 pun saya dapatkan. Tetapi saya akan selalu ingat pesan Prof. Marsigit yang kurang lebih demikian: “Gengsi dapat 0? Saya memang sengaja membuat nilaimu 0 supaya gengsimu hilang. Tak boleh ada gengsi di sini. Cari ilmu tak perlu gengsi.”
Saya sangat menyadari bahwa ketika saya mencari ilmu, saya tidak boleh sombong. Orang sombong tentu berpikir dirinya sudah tahu semuanya dan akhirnya tak memiliki keinginan untuk berkembang, walaupun sebenarnya kesombongannyalah yang membuatnya menjadi 0.
Hal ini dapat terjadi pula ketika kita gengsi dengan wajah kita. Karena sesungguhnya dalam filsafat, cantik itu metafisik. Apa yang terlihat cantik itu bukan wajah kita, tetapi yang ada di balik wajah itu. Diri kita itu plural. Berubah setiap detiknya. Aku yang absolut, aku yang diam, aku yang spiritualis, aku yang kejam, aku yang humanis, aku yang hedonis, aku yang kapital. Sebenar-benar filsafat adalah pusat. Jika menurut dengan pusat tersebut, maka diri kita akan terus bergeser-geser. Ada saat menjadi diri yang humanis, ada saat menjadi diam, dan sebagainya.  Kita juga dapat menjadi manusia batu. Contohnya adalah saat sudah kuliah beberapa kali pertemuan, tetapi masih belum membuat tugas. Menjadi manusia batu saat yang lain sudah berpikir tetapi diri sendiri belum memulai. Ketika kita lamban berpikir itulah ketika kita menjadi diri kita yang manusia batu. Hal ini juga terjadi ketika kita malas bertanya. Maka sesi tanya jawab pun dimulai.
Pertanyaan pertama yang muncul adalah “Apakah kita mencari sesuatu yang sudah ada atau yang belum ada?”. Pertanyaan dijawab dengan penjelasan mengenai mencari. Ketika kita melibatkan diri kita dalam mencari, kita akan mengetahui sendiri apa makna dari mencari. Kita juga akan paham bahwa tidak mencari juga merupakan wujud dari mencari. Kalau kita diam saja adalah mitos. Maka kita harus melibatkan diri untuk mengetahui apa yang kita cari.

Pertanyaan tersebut menggiring diskusi pada suatu pertanyaan “Apakah Tuhan mampu menciptakan batu yang sedemikian besar sehingga Tuhan tidak mampu mengangkatnya?”
Jika jawabannya mampu, maka akan timbul pertanyaan: “Masa Tuhan tidak mampu mengangkat sesuatu yang dibuatnya?”, Jika jawabannya tidak mampu, maka akan timbul pertanyaan lain: “Masa Tuhan tidak mampu menciptakan sesuatu?”
Sama halnya dengan pernyataan: himpunan X yang tidak sama dengan X. Apakah mungkin X berdiri sebagai anggota X, sekaligus mendapat identitas sebagai bukan X?
Inilah ilmu. Sebenar-benarnya ilmu adalah kontradiksi. Ilmu itu ada diperbatasan. Untuk bisa menggapai perbatasan ini, kita perlu menembus ruang dan waktu. Maka sebenar-benar orang cerdas adalah orang yang dapat menempatkan diri sesuai dengan ruang dan waktu. Tidak ada yang salah menurut filsafat, yang ada hanya saja tidak sesuai ruang dan waktu.

Alat berfilsafat adalah Bahasa analog, objeknya adalah yang ada dan yang mungkin ada. Objek filsafat ini mempunyai berstruktur, sama seperti bahasanya pula. Bahasa analog orang awam itu pengandaian. Di atas pengandaian ada perumpamaan, dan di atas perumpamaan ada kiasan.
Pikiran manusia itu hanya seputar urusan dunia. Kita tak bisa hanya mengandalkan pikiran saja. Karena setingi-tingginya pikiran itu hanya urusan Dunia. Kita menerima kiasan bahwa Tuhan itu ada di langit. Namun, Tuhan pun ada di sekitar kita, di dunia. Hal-hal inilah yang perlu kita kelola dengan terus berhermenetika. Hermenetika itu berarti terjemahkan, terjemahkan dan menterjemahkan. Pikiran kita mucul terus sehingga suatu saat kita sampai pada tataran tertinggi. Saat itu terjadi, kita pun jadi sadar bahwa aturan pun dapat bersifat kontradiksi. Tentu akan muncul pikiran bahwa agama itu banyak, lalu bagaimana menyamakan aturannya? Pertanyaan itu sudah ada di luar pikiran, pikiran kita tak kan bisa memikirkannya. Pertanyaan lain seperti “mengapa Tuhan menciptakan banyak agama?” hal seperti ini bukan lagi domain pikiran, namun domain kepercayaan kita masing-masing. Tidak berpikir itu mitos, tapi mitos tidak dapat kita gunakan untuk masalah spiritual. Spiritual itu keyakinan.



Sebenar-benar mitos operasional untuk pendidikan itu ketika kita mengerjakan sesuatu tapi tak mengerti apa yang kita kerjakan. Maka ketika kita meminta anak yang kita ajar mengerjakan sesuatu tanpa membuat mereka mengerti apa yang mereka ajarkan, kita telah membuat mereka terjebak dalam mitos. “Sebenar-benar filsafat itu adalah dirimu sendiri.” Hal ini perlu diterapkan pula dalam mengajar. Mulai dengan pemahaman bahwa setiap anak menerima pembelajaran dengan kemampuannya masing-masing, memiliki filsafatnya masing-masing. Maka guru pun harus memfasilitasi pengembangan filsafat masing-masing anak, sehingga anak-anak tidak terjebak dalam mitos.

No comments:

Post a Comment