Thursday, December 28, 2017

Bagaimana menjelaskan apa yang kamu pikirkan kepada orang lain dan memahami apa yang diluar pikiranmu (Refleksi Filsafat Kelima)

Sebenar-benar diriku adalah tidak dapat mengerti segala sesuatu
-socrates.



Seperti biasa, perkuliahan dibuka dengan doa, yang dilanjutkan dengan tes jawab singkat.
Tes jawab singkat ini cukup berbeda karena pertanyaan yang diberikan banyak yang tak berupa kalimat tanya, melainkan hanya sebuah pernyataan seperti: ehm, sudah menjad bubur, saya tak mengira, pantesan.. Berikut merupakan pertanyaan dan jawaban soal jawab singkat yang telah dibahas bersama:
1.       Kapan? Belum tentu ketika.
2.       Mengapa? Karena terpilih. Siapa yang memilih? Tuhan.
3.       Bagaimana? Hermenetika
4.       Siapa? Subyek atau obyek.
5.       Untuk apa? Pengada
6.       Sedang apa? Mengada
7.       Kenapa keliru? Tak sesuai ruang dan waktu
8.       Mau ke mana? Mengada
9.       Kenapa naik? Relatif. Karena mungkin bagi yang lain turun
10.   Kenapa turun? Relatif
11.   Kenapa jauh? Relatif. Bagi yang lain dekat
12.   Kenapa dekat? Relatif
13.   Terlanjur: takdir. Terlanjur itu telah terjadi, semua yang sudah terjadi adalah takdir.
14.   Naik kereta api: hermenetika
15.   Kacau: sintesis
16.   Rencana: teleologi, ilmu masa depan
17.   Aneh: tak sesuai dengan ruang dan waktu
18.   Lupa: intuisi
19.   Padahal: koheren
20.   Sudah saya cek: realis. Kenyataannya itu realis.
21.   Waduh: intensi. Intensi itu fenomenologi. Hidup itu intensi. Tidak mungkin hidup jika tidak ada intensi.
22.   Ehm: ati tesis.
23.   Sudah menjadi bubur: sintesis
24.   Tak mengira: aposteriori.
25.   Pantesan: konsisten. Pantes itu konsisten, logika.

Saya kembali mendapatkan nilai 0. Tetapi saya terus mengingatkan diri saya bahwa nilai 0 itu ada untuk mengalahkan kesombongan. Musuhnya belajar filsafat itu sombong, maka ini adalah peringatan bagi saya agar saya tidak berhenti untuk terus mencari pengetahuan lewat membaca dan membaca.

Seusai tes jawab singkat, sesi tanya jawab pun dibuka. Pertanyaan demi pertanyaan pun dilontarkan oleh setiap mahasiswa. Berikut merupakan rangkuman beberapa pertanyaan beserta jawabannya yang disertai sedikit refleksi saya yang saya dapat dari perenungan saat perkuliahan:
1.       Mengapa kita harus mengada?
Karena mengada adalah hakekat hidup. Kalau hanya ada saja belum tentu hidup. Hakekat hidup adalah ada yang mengada. Produk dari mengada adalah pengada. Maka setiap saat kita selalu menjadi pengada.
2.      Semakin membaca semakin kacau pikiran. Seperti apa supaya kita bisa mengerti jalurnya?
Korelasi antara jawab singkat dengan kegiatan komen sangat kecil, atau bahkan tidak ada korelasinya sama sekali. Tetapi, kegiatan ini korelasinya jangka panjang. Filsafat itu tidak bisa dipelajari dengan cara yang singkat. Jangan coba-coba mencari jalan pintas yang instan. Pertanyaan jawab singkat ini bukan untuk dihapalkan, tetapi direnungkan. Karena pertanyaan yang sama bisa berbeda jawabannya di tempat yang lain. Walau berbeda tetapi ada prinsipnya. Prinsipnya berhermenetika antara realistis dengan yang ideal. Jawaban dari tes jawab singkat itu bukanlah final. Dapat dibahas secara mendalam mengenai jawaban tersebut. Maka adalah tugas mahasiswa adalah terus mensintesis jawabannya sendiri. Tidak hanya ikut arus, manut dengan jawaban yang diberikan oleh dosen. Kita harus menemukan jawaban kita sendiri, menurut pandangan kita sendiri. Berbahayalah jika kita hanya berhenti pada apa yang didapatkan selama kuliah.
3.       Aposteriori terjadi pada hidup anak-anak, Bagaimana ketika aposteriori itu berada dalam kehidupan orang dewasa?
Jangan dikira orang dewasa tidak memakai aposteriori. Semua itu berhermenitika. Dalam hidup itu terus menerus terjadi terjemah dan menterjemahkan antara nyata dan abstrak. Dalam Budaya Jawa, dikenal Cokro manggilingan. Cokro itu bulat, manggilingan itu lurus. Hidup jika diabstraksi itu dapat menjadi lingkaran dan garis lurus. Hidup itu lingkaran, terus berputar antara terjemah dan menterjemahkan dalam kegiatan sintesis. Hidup itu juga merupakan garis lurus, tak bisa kembali lagi ke suatu titik tertentu, karena terus berjalan maju.
4.       Apakah ada sifat di mana ruang dan waktu menyesuaikan kita?
Ruang adalah waktu, waktu adalah ruang. Ruang adalah setiap yang ada, waktu adalah setiap ang ada. Maka setiap yang ada adalah waktu dan setiap yang ada adalah ruang. Kita adalah ruang, kita adalah waktu. Kita terikat dengan ruang dan waktu. Kita tidak bisa berkomunikasi tanpa ruang dan waktu. Kalau dihilangkan salah satu unsur dari ruang dan waktu, maka tidak ada kehidupan. Tidak ada ruang tanpa waktu, tidak ada waktu tanpa ruang. Sifat kitalah yang menyesuaikan ruang dan waktu.
5.       Apakah bisa dikatakan bahwa ikhlas itu tersembunyi?
Ikhlas itu bisa dimulai dari batu. Batu ikhlas ketika ia sesuai dengan aturan Tuhan. Ketika batu kecil tertimpa batu besar, dia pecah maka ia ikhlas. Ia sesuai dengan aturan Tuhan. Ikhlas itu sesuai dengan aturan Tuhan. Tidak ada manusia yang bisa mengetahui ikhlasnya manusia kecuali Tuhan. Manusia hanya bisa tau dari gejalanya. Orang kalo marah itu tidak ikhlas, itu gejalanya. Sebenar-benar orang, ia tak bisa mengaku bahwa dirinya ikhlas.
6.       Filsafat itu adalah dirimu sendiri, bagaimana agar orang-orang dengan filsafat yang berbeda tidak saling menyakiti?
Filsafat itu berjenjang, berlevel. Kalau filsafat formal itu baca buku filsuf. Yang ada pada perkuliahan itu informalnya. Setiap orang punya filsafatnya masing-masing, tergantung bacaanmu, tergantung latar belakangmu. Sebenar-benar filsafat adalah penjelasanmu. Maka setiap orang memiliki penjelasannya sendiri. Pokok filsafat itu ada dua. Yang pertama adalah bagaimana menjelaskan kepada orang lain mengenai apa yang kamu pikirkan. Yang kedua adalah memahami apa yang diluar pikiranmu. Namun ada infinit regres, maka orang tak akan pernah mengerti secara sempurna.
Pemahaman umum setiap orang umumnya sama. Hal ini menunjukkan bahwa kita memiliki hal yang sama dan beda. Dalam hidup itu, kita berinteraksi antara sama dan beda. Supaya ada keseimbangan. Maka perbedaan dan persamaan itu perlu disadari. Sadar bahwa setiap orang memiliki pemikirannya sendiri, sadar bahwa kita tak kan mampu memahami pikiran orang lain. Itu dapat menjadi dasar saling menghargai pendapat orang lain walaupun berbeda prinsipnya.
7.       Bagaimana cara dapat menghayati hidup?
Pikirkan apa yang kau jalani, jalani apa yang kau pikirkan. Biar semua itu terjadi dalam kerangka doa. Kalau dipikir saja stress. Contohnya, kalau mau tugas selesai ya dikerjakan, jika hanya dipikirkan tugas tersebut tak kan kunjung selesai. Pikirkan yang dikerjakan, kerjakan yang kau pikirkan. Jalani yang kau cintai dan cintai yang kau jalani. Hal-hal tersebut di atas dapat membuat kita menghayati perjalanan hidup.
8.       Mengapa Bapak bisa menjawab semua pertanyaan kami?
Ini adalah Ikhtiar dan pengalaman. Salah satu kekuatan filsafat adalah bisa merefleksikan pengalaman. Filsafat itu tidak diberikan, tetapi harus cari sendiri, baca sendiri. Belajar filsafat harus mampu merefleksikan. Maka semua jawaban yang telah diberikan adalah hasil refleksi diri yang bisa didapat juga dari pengalaman.
Pantesan itu konsisten, jauh itu relative. Kalau pantesan jauh, pantesan cantik?
Itu gabungan. Pantesan itu logic, dia telah memikirkannya. Jawabnya itu relative. Konsisten relatifnya. Konsisten tidak konsistennya.
9.       Bagaimana membedakan bingung tidak tahu dan bingung ketika kita mau tahu?
Bingung itu istilah yang digunakan untuk mengacu pada pikiran. Walau dalam pikir kita bingung, tapi dalam hati jangan sampai ada kebingungan dan keraguan. Kuncinya ada pada Ikhlas dalam hati dan pikir. Ikhlas dalam hati artinya tiada manipulasi dan kebohongan, terus berpikir positif. Ikhlas dalam pikir artinya paham dalam pikiran. Terjadinya pengetahuan itu karena ada pertentangan antara tesis dan antithesis. Perkataan dosen dalam perkuliahan itu tesis. Maka bahaya kalau di perkuliahan hanya diam saja, menerima saja, maka mahasiswa terancam akan tertimpa bayangan sang dosen. Maka harus diimbangi dengan sintesis pikiran kita sendiri, itu adalah untuk membangun struktur pikiran kita.
“Jangan percaya omongan saya”
Kalau perkataan ini ditelan mentah-mentah itu gawat. Bukan secara harafiah kita mengartikannya, tetapi maksudnya harus ada sintesis milik kita sendiri dalam pikir. Tidak langsung mempercayai apa yang kita dengar.
10.   Bagaimana jika orangtua bertanya filsafat itu belajar apa saja?
Pertanyaan ini kalau tidak benar-benar ditanya maka tidak perlu dijelaskan. Karena, tidak ada penjelasan itu pun penjelasan. Apakah semua pertanyaan perlu dijawab? Tiada jawaban itu pun merupakan jawaban. Maka semua pertanyaan pasti ada jawabannya. Tidak ada jawaban itu pun merupakan jawaban. Jawabannya hermenetika. Bergaulah. Pergaulilah orangtua dengan filsafat, sesuai dengan ruang dan waktu. Perlu komunikasi. Tiada komunikasi itu juga komunikasi.

Masih ada beberapa pertanyaan yang tak saya cantumkan dalam refleksi ini. Dari perkuliahan ini, saya benar-benar menyadari bahwa sintesis dan penjelasan diri sendirilah yang penting. Kita tak mampu memahami pikiran orang lain, maka semua pertanyaan kita terhadap orang itu tidak harus semuanya terjawab. Karena, tidak ada jawaban juga merupakan jawaban. Berangkat dari hal itu, maka haruslah kita menjalani hidup dengan ikhlas. Tak ada gunanya memikirkan sesuatu hal terlalu dalam, namun tak ada tindakan nyata yang kita lakukan. Di dalam tindakan haruslah mencerminkan keikhlasan. Ikhlas ketika kita tidak mengetahui pikiran orang lain, ikhlas ketika kita memang diciptakan tidak untuk mengetahui segala sesuatu. Misteri itu harus kita terima. Ikhlas, sulit memang, tapi ketika hidup itu berhermenetika, maka belajar mengenai keikhlasan akan menjadi proses yang tak kan pernah berhenti.

No comments:

Post a Comment