Sebenar-benar diriku adalah tidak dapat mengerti segala sesuatu
-socrates.
Seperti biasa, perkuliahan dibuka
dengan doa, yang dilanjutkan dengan tes jawab singkat.
Tes jawab singkat ini cukup berbeda
karena pertanyaan yang diberikan banyak yang tak berupa kalimat tanya,
melainkan hanya sebuah pernyataan seperti: ehm, sudah menjad bubur, saya tak
mengira, pantesan.. Berikut merupakan pertanyaan dan jawaban soal jawab singkat
yang telah dibahas bersama:
1. Kapan? Belum tentu ketika.
2. Mengapa? Karena terpilih. Siapa yang
memilih? Tuhan.
3. Bagaimana? Hermenetika
4. Siapa? Subyek atau obyek.
5. Untuk apa? Pengada
6. Sedang apa? Mengada
7. Kenapa keliru? Tak sesuai ruang dan
waktu
8. Mau ke mana? Mengada
9. Kenapa naik? Relatif. Karena mungkin
bagi yang lain turun
10. Kenapa turun? Relatif
11. Kenapa jauh? Relatif. Bagi yang
lain dekat
12. Kenapa dekat? Relatif
13. Terlanjur: takdir. Terlanjur itu
telah terjadi, semua yang sudah terjadi adalah takdir.
14. Naik kereta api: hermenetika
15. Kacau: sintesis
16. Rencana: teleologi, ilmu masa depan
17. Aneh: tak sesuai dengan ruang dan
waktu
18. Lupa: intuisi
19. Padahal: koheren
20. Sudah saya cek: realis. Kenyataannya
itu realis.
21. Waduh: intensi. Intensi itu
fenomenologi. Hidup itu intensi. Tidak mungkin hidup jika tidak ada intensi.
22. Ehm: ati tesis.
23. Sudah menjadi bubur: sintesis
24. Tak mengira: aposteriori.
25. Pantesan: konsisten. Pantes itu
konsisten, logika.
Saya kembali mendapatkan nilai 0.
Tetapi saya terus mengingatkan diri saya bahwa nilai 0 itu ada untuk
mengalahkan kesombongan. Musuhnya belajar filsafat itu sombong, maka ini adalah
peringatan bagi saya agar saya tidak berhenti untuk terus mencari pengetahuan
lewat membaca dan membaca.
Seusai tes jawab singkat, sesi tanya
jawab pun dibuka. Pertanyaan demi pertanyaan pun dilontarkan oleh setiap
mahasiswa. Berikut merupakan rangkuman beberapa pertanyaan beserta jawabannya
yang disertai sedikit refleksi saya yang saya dapat dari perenungan saat
perkuliahan:
1.
Mengapa
kita harus mengada?
Karena mengada adalah hakekat hidup.
Kalau hanya ada saja belum tentu hidup. Hakekat hidup adalah ada yang mengada.
Produk dari mengada adalah pengada. Maka setiap saat kita selalu menjadi
pengada.
2.
Semakin
membaca semakin kacau pikiran. Seperti apa supaya kita bisa mengerti jalurnya?
Korelasi antara jawab singkat dengan
kegiatan komen sangat kecil, atau bahkan tidak ada korelasinya sama sekali.
Tetapi, kegiatan ini korelasinya jangka panjang. Filsafat itu tidak bisa
dipelajari dengan cara yang singkat. Jangan coba-coba mencari jalan pintas yang
instan. Pertanyaan jawab singkat ini bukan untuk dihapalkan, tetapi
direnungkan. Karena pertanyaan yang sama bisa berbeda jawabannya di tempat yang
lain. Walau berbeda tetapi ada prinsipnya. Prinsipnya berhermenetika antara
realistis dengan yang ideal. Jawaban dari tes jawab singkat itu bukanlah final.
Dapat dibahas secara mendalam mengenai jawaban tersebut. Maka adalah tugas
mahasiswa adalah terus mensintesis jawabannya sendiri. Tidak hanya ikut arus,
manut dengan jawaban yang diberikan oleh dosen. Kita harus menemukan jawaban
kita sendiri, menurut pandangan kita sendiri. Berbahayalah jika kita hanya berhenti
pada apa yang didapatkan selama kuliah.
3.
Aposteriori
terjadi pada hidup anak-anak, Bagaimana ketika aposteriori itu berada dalam
kehidupan orang dewasa?
Jangan dikira orang dewasa tidak
memakai aposteriori. Semua itu berhermenitika. Dalam hidup itu terus menerus
terjadi terjemah dan menterjemahkan antara nyata dan abstrak. Dalam Budaya
Jawa, dikenal Cokro manggilingan. Cokro itu bulat, manggilingan itu lurus.
Hidup jika diabstraksi itu dapat menjadi lingkaran dan garis lurus. Hidup itu
lingkaran, terus berputar antara terjemah dan menterjemahkan dalam kegiatan
sintesis. Hidup itu juga merupakan garis lurus, tak bisa kembali lagi ke suatu
titik tertentu, karena terus berjalan maju.
4.
Apakah
ada sifat di mana ruang dan waktu menyesuaikan kita?
Ruang adalah waktu, waktu adalah
ruang. Ruang adalah setiap yang ada, waktu adalah setiap ang ada. Maka setiap
yang ada adalah waktu dan setiap yang ada adalah ruang. Kita adalah ruang, kita
adalah waktu. Kita terikat dengan ruang dan waktu. Kita tidak bisa
berkomunikasi tanpa ruang dan waktu. Kalau dihilangkan salah satu unsur dari
ruang dan waktu, maka tidak ada kehidupan. Tidak ada ruang tanpa waktu, tidak
ada waktu tanpa ruang. Sifat kitalah yang menyesuaikan ruang dan waktu.
5.
Apakah
bisa dikatakan bahwa ikhlas itu tersembunyi?
Ikhlas itu bisa dimulai dari batu.
Batu ikhlas ketika ia sesuai dengan aturan Tuhan. Ketika batu kecil tertimpa
batu besar, dia pecah maka ia ikhlas. Ia sesuai dengan aturan Tuhan. Ikhlas itu
sesuai dengan aturan Tuhan. Tidak ada manusia yang bisa mengetahui ikhlasnya
manusia kecuali Tuhan. Manusia hanya bisa tau dari gejalanya. Orang kalo marah
itu tidak ikhlas, itu gejalanya. Sebenar-benar orang, ia tak bisa mengaku bahwa
dirinya ikhlas.
6.
Filsafat
itu adalah dirimu sendiri, bagaimana agar orang-orang dengan filsafat yang
berbeda tidak saling menyakiti?
Filsafat itu berjenjang, berlevel.
Kalau filsafat formal itu baca buku filsuf. Yang ada pada perkuliahan itu
informalnya. Setiap orang punya filsafatnya masing-masing, tergantung bacaanmu,
tergantung latar belakangmu. Sebenar-benar filsafat adalah penjelasanmu. Maka
setiap orang memiliki penjelasannya sendiri. Pokok filsafat itu ada dua. Yang
pertama adalah bagaimana menjelaskan kepada orang lain mengenai apa yang kamu pikirkan.
Yang kedua adalah memahami apa yang diluar pikiranmu. Namun ada infinit regres,
maka orang tak akan pernah mengerti secara sempurna.
Pemahaman umum setiap orang umumnya
sama. Hal ini menunjukkan bahwa kita memiliki hal yang sama dan beda. Dalam
hidup itu, kita berinteraksi antara sama dan beda. Supaya ada keseimbangan. Maka
perbedaan dan persamaan itu perlu disadari. Sadar bahwa setiap orang memiliki
pemikirannya sendiri, sadar bahwa kita tak kan mampu memahami pikiran orang
lain. Itu dapat menjadi dasar saling menghargai pendapat orang lain walaupun
berbeda prinsipnya.
7.
Bagaimana
cara dapat menghayati hidup?
Pikirkan apa yang kau jalani, jalani
apa yang kau pikirkan. Biar semua itu terjadi dalam kerangka doa. Kalau dipikir
saja stress. Contohnya, kalau mau tugas selesai ya dikerjakan, jika hanya
dipikirkan tugas tersebut tak kan kunjung selesai. Pikirkan yang dikerjakan,
kerjakan yang kau pikirkan. Jalani yang kau cintai dan cintai yang kau jalani.
Hal-hal tersebut di atas dapat membuat kita menghayati perjalanan hidup.
8.
Mengapa
Bapak bisa menjawab semua pertanyaan kami?
Ini adalah Ikhtiar dan pengalaman.
Salah satu kekuatan filsafat adalah bisa merefleksikan pengalaman. Filsafat itu
tidak diberikan, tetapi harus cari sendiri, baca sendiri. Belajar filsafat
harus mampu merefleksikan. Maka semua jawaban yang telah diberikan adalah hasil
refleksi diri yang bisa didapat juga dari pengalaman.
Pantesan itu konsisten, jauh itu relative.
Kalau pantesan jauh, pantesan cantik?
Itu gabungan. Pantesan itu logic,
dia telah memikirkannya. Jawabnya itu relative. Konsisten relatifnya. Konsisten
tidak konsistennya.
9.
Bagaimana
membedakan bingung tidak tahu dan bingung ketika kita mau tahu?
Bingung itu istilah yang digunakan
untuk mengacu pada pikiran. Walau dalam pikir kita bingung, tapi dalam hati
jangan sampai ada kebingungan dan keraguan. Kuncinya ada pada Ikhlas dalam hati
dan pikir. Ikhlas dalam hati artinya tiada manipulasi dan kebohongan, terus
berpikir positif. Ikhlas dalam pikir artinya paham dalam pikiran. Terjadinya
pengetahuan itu karena ada pertentangan antara tesis dan antithesis. Perkataan dosen
dalam perkuliahan itu tesis. Maka bahaya kalau di perkuliahan hanya diam saja,
menerima saja, maka mahasiswa terancam akan tertimpa bayangan sang dosen. Maka
harus diimbangi dengan sintesis pikiran kita sendiri, itu adalah untuk
membangun struktur pikiran kita.
“Jangan
percaya omongan saya”
Kalau perkataan ini ditelan
mentah-mentah itu gawat. Bukan secara harafiah kita mengartikannya, tetapi
maksudnya harus ada sintesis milik kita sendiri dalam pikir. Tidak langsung
mempercayai apa yang kita dengar.
10.
Bagaimana
jika orangtua bertanya filsafat itu belajar apa saja?
Pertanyaan ini kalau tidak benar-benar
ditanya maka tidak perlu dijelaskan. Karena, tidak ada penjelasan itu pun
penjelasan. Apakah semua pertanyaan perlu dijawab? Tiada jawaban itu pun merupakan
jawaban. Maka semua pertanyaan pasti ada jawabannya. Tidak ada jawaban itu pun merupakan
jawaban. Jawabannya hermenetika. Bergaulah. Pergaulilah orangtua dengan
filsafat, sesuai dengan ruang dan waktu. Perlu komunikasi. Tiada komunikasi itu
juga komunikasi.
Masih ada beberapa pertanyaan yang
tak saya cantumkan dalam refleksi ini. Dari perkuliahan ini, saya benar-benar
menyadari bahwa sintesis dan penjelasan diri sendirilah yang penting. Kita tak
mampu memahami pikiran orang lain, maka semua pertanyaan kita terhadap orang
itu tidak harus semuanya terjawab. Karena, tidak ada jawaban juga merupakan
jawaban. Berangkat dari hal itu, maka haruslah kita menjalani hidup dengan
ikhlas. Tak ada gunanya memikirkan sesuatu hal terlalu dalam, namun tak ada
tindakan nyata yang kita lakukan. Di dalam tindakan haruslah mencerminkan
keikhlasan. Ikhlas ketika kita tidak mengetahui pikiran orang lain, ikhlas
ketika kita memang diciptakan tidak untuk mengetahui segala sesuatu. Misteri
itu harus kita terima. Ikhlas, sulit memang, tapi ketika hidup itu
berhermenetika, maka belajar mengenai keikhlasan akan menjadi proses yang tak
kan pernah berhenti.
No comments:
Post a Comment