"Belajar filsafat harus mulai dari nol. Kalau sudah sombong sulit belajar filsafat. Semakin bingung semakin baik. Kacau pikiran itu pertanda akan mendapat ilmu. Kalau damai di dalam pikiran berarti tidak berpikir."
Pertemuan kedua kuliah filsafat ilmu bersama Dosen Pengampu Prof. Dr. Marsigit, M.A. dimulai dengan berdoa. Setelah itu ada kuis singkat mengenai pertanyaan-pertanyaan filsafat lalu dilanjutkan dengan diskusi kelas.
Di belakang
kita adalah epoche. Di depan kita ada pilihan. Di atas kita ada prinsip. Di
bawah ada bayangan. Rumah kita ada dalam
Bahasa. Orangtua kita adalah potensi jiwa. Milikku adalah sifat. Bayanganku
adalah kenyataan. Ketetapan adalah idea. Musuh adalah mitos.
Belajar
filsafat harus mulai dari nol. Kalau sudah sombong sulit belajar filsafat. Semakin
bingung semakin baik. Kacau pikiran itu pertanda akan mendapat ilmu. Kalau
damai di dalam pikiran berarti tidak berpikir. Tidur itu mitos karena tidur tak
berpikir. Maka filsafat adalah pola pikir. Orang berpikir tentang hakikat,
metode berpikir dan aksiologinya.
Siapa anda?
Anda hakikat. Kalau spiritual anda adalah spiritual. Binatang, tumbuhan, semua
ciptaan Tuhan adalah potensi. Ada potensi tetap dan potensi berubah. Apapun
yang sudah terjadi adalah potensi takdir. Takdir itu yang terbaik. Masa lalu
adalah kodrat atau takdir. Kodrat atau takdir itu yang dipilih. Kamu sudah
dipilih oleh Tuhan. Masa depanmu sudah dipilih, yang memilih itu kau sendiri. Sebenar-benar
masa depanmu adalah pilihan. Kita harus menyadari bahwa hidup memang adalah
takdir tetapi juga pilihan kita sendiri. Kaum fatal itu menganggap bahwa hidup
hanya takdir saja bukan pilihan. Sebenar-benar hidup itu pilihan.
Semua yang
ada dan yang mungkin ada itu potensi. Batu punya potensi potensi pecah, potensi
tambah besar, potensi jatuh. Semilyar pangkat semilyar tak cukup untuk
mengungkapkan potensi. Manusia juga berpotensi banyak, potensi sakit, potensi
tidak sakit, potensi kematian, potensi rejeki, dll. Berfilsafat itu cair, tidak
mudah terpancing pada satu sisi. Kita itu dunia, dunia itu pural. Yang plural akan
menjadi satu menjadi monoisme, monoisme itu milik Tuhan.
Kita sedang
bersama pikiran. Sebenar-benar hidup adalah berpikir. Definisi mati itu berbeda-beda.
Dalam spiritual orang tak berdoa itu mati. Dalam filsafat orang hidup itu mati
karena mereka tidak sedang berpikir.
Potensi
untuk menjadi potensi yang lain namanya mengada. Bisa mengada karena punya
kesempatan untuk memilih. Kita ada di sini karena bertanya. Bertanya adalah
awal dari pikiran. Asal kita dari dua macam potensi yaitu fatal dan fital.
Fatal itu takdir. Secara fisik manusia diberi karunia berupa gudang di belakang
kita. Kita tidak mampu melihat apa yang ada di belakang diri kita. Maka kita
tidak perlu memikirkan apa yang ada di belakang. Kita punya mata semua ditaruh
di muka. Untuk lihat kebelakang harus effort. Maka, epoche itu gudang
penyimpanan. secara metafisik, ketika kita fokus bertemu orang lain, kita tidak
sedang memikirkan yang lain. Saat ada di sana kita focus memikirkan yang ada di
sana. Sementara hal-hal yang lain sudah ditempatkan dalam gudang tersebut. Itu
namanya abstraksi. Abstraksi itu memilih. Manusia diberi kemampuan abstraksi.
Maka masa depan ya pilihan kita. Abstraksi fokus pada apa yang ingin
dibicarakan relevan dengan kepentingannya.
Sebenar-benarnya
pembicaraan bijaksana itu sesuai dengan ruang dan waktu. Oleh karena itu kalau bicara
sama orang tua harus sesuai dengan ruang dan waktunya. Sebenar-benarnya orang
cerdas itu sesuai dengan ruang dan waktu. Bahagia juga sesuai ruang dan waktu. Bicara
juga begitu, selalu ada tema yang dipilih. Kalau tidak fokus dengan tema, hal
ini menandakan tidak adanya kemampuan abstraksi.
Kita bisa
duduk bersama di sini adalah karena punya prinsip yang sama, yaitu kuliah.
Prinsip ada di atas karena mengatur kita. Perilaku kita adalah bayang-bayang
dari prinsip-prinsip. Prinsip semakin ke atas semakin menyatu, yang tak lain hanya
satu, milik Tuhan. Semakin ke bawah prinsip yang ada semakin plural. Jangankan
orang yang berbeda, diriku yang sekarang dengan diriku nanti berbeda. Sejarah
kita adalah sejarah fatal dan fital kita masing-masing. Dari sajarah filsafat
yang ada, di masa sekarang kita menyebutnya filsafat Bahasa atau filsafat
analitik. Kita sadar sekarang ada dalam dunia Bahasa. Di dunia ada hoax, ada
fitnah, dll. Karena rumah kita adalah Bahasa, maka sebenar-benar dirimu adalah
bahasamu. Maka penting untuk menjaga Bahasa kita dalam komunikasi. Hubungan
supaya sustain, harus akuntabel. Sebalinya pun supaya akuntabel harus sustain.
Supaya bisa dipercaya maka harus ada komunikasi. Supaya komunikasi berjalan
terus maka harus bisa dipercaya. Berdoa
dan belajar juga seperti itu. Belajar terus
menerus dan melalui sumber yang dapat dipercaya.
Semua
milikmu menjadi sifatmu. Sifatmu itu milikmu. Sebenar-benar milik itu kuasa. Kuasa
itu dalam arti ontologis. Dirimu itu ada dua, yang tetap dan berubah. Berubah bisa
dalam masalah perasaan, selera makan, gaya pakaian, keinginan, dll. Tapi ada
yang tetap, yaitu bahwa kita tetap ciptaan Tuhan. Hal ini tak akan pernah
berubah dan tak ada yang mampu membantah. Pernytaan ini bukan berarti secara parsial kita mencari
yang tetap dan berubah dalam diri. Tetapi menyadari bahwa dalam diri memang ada
dua sisi yaitu yang tetap dan berubah. Dalam filsafat, hal yang tetap itu
bernama ideal. Kalau punya cita-cita ya jangan berubah-ubah, karena itu
seharusnya menjadi ideal. Hal yang berubah itu bernama realisme. Kenyataan
kitalah yang berubah-ubah.
Musuh kita
adalah mitos. Logos terjadi dalam keadaan berpikir, sementara mitos dalam
keadaan tidak berpikir. Mitos tidak penting? Tidak. Mitos adalah melakukan
pekerjaan dimana kita tidak mengertinya, seperti anak-anak yang sedang
mendalami kehidupan, mereka tak mengerti apa yang mereka lakukan dan hal ini
dipahami sebaga mitos.
No comments:
Post a Comment