Tuesday, October 17, 2017

Belajar filsafat dari nol (Refleksi Filsafat Kedua)

"Belajar filsafat harus mulai dari nol. Kalau sudah sombong sulit belajar filsafat. Semakin bingung semakin baik. Kacau pikiran itu pertanda akan mendapat ilmu. Kalau damai di dalam pikiran berarti tidak berpikir." 


Pertemuan kedua kuliah filsafat ilmu bersama Dosen Pengampu Prof. Dr. Marsigit, M.A. dimulai dengan berdoa. Setelah itu ada kuis singkat mengenai pertanyaan-pertanyaan filsafat lalu dilanjutkan dengan diskusi kelas.

Di belakang kita adalah epoche. Di depan kita ada pilihan. Di atas kita ada prinsip. Di bawah ada bayangan.  Rumah kita ada dalam Bahasa. Orangtua kita adalah potensi jiwa. Milikku adalah sifat. Bayanganku adalah kenyataan. Ketetapan adalah idea. Musuh adalah mitos.

Belajar filsafat harus mulai dari nol. Kalau sudah sombong sulit belajar filsafat. Semakin bingung semakin baik. Kacau pikiran itu pertanda akan mendapat ilmu. Kalau damai di dalam pikiran berarti tidak berpikir. Tidur itu mitos karena tidur tak berpikir. Maka filsafat adalah pola pikir. Orang berpikir tentang hakikat, metode berpikir dan aksiologinya.

Siapa anda? Anda hakikat. Kalau spiritual anda adalah spiritual. Binatang, tumbuhan, semua ciptaan Tuhan adalah potensi. Ada potensi tetap dan potensi berubah. Apapun yang sudah terjadi adalah potensi takdir. Takdir itu yang terbaik. Masa lalu adalah kodrat atau takdir. Kodrat atau takdir itu yang dipilih. Kamu sudah dipilih oleh Tuhan. Masa depanmu sudah dipilih, yang memilih itu kau sendiri. Sebenar-benar masa depanmu adalah pilihan. Kita harus menyadari bahwa hidup memang adalah takdir tetapi juga pilihan kita sendiri. Kaum fatal itu menganggap bahwa hidup hanya takdir saja bukan pilihan. Sebenar-benar hidup itu pilihan.

Semua yang ada dan yang mungkin ada itu potensi. Batu punya potensi potensi pecah, potensi tambah besar, potensi jatuh. Semilyar pangkat semilyar tak cukup untuk mengungkapkan potensi. Manusia juga berpotensi banyak, potensi sakit, potensi tidak sakit, potensi kematian, potensi rejeki, dll. Berfilsafat itu cair, tidak mudah terpancing pada satu sisi. Kita itu dunia, dunia itu pural. Yang plural akan menjadi satu menjadi monoisme, monoisme itu milik Tuhan.

Kita sedang bersama pikiran. Sebenar-benar hidup adalah berpikir. Definisi mati itu berbeda-beda. Dalam spiritual orang tak berdoa itu mati. Dalam filsafat orang hidup itu mati karena mereka tidak sedang berpikir.

Potensi untuk menjadi potensi yang lain namanya mengada. Bisa mengada karena punya kesempatan untuk memilih. Kita ada di sini karena bertanya. Bertanya adalah awal dari pikiran. Asal kita dari dua macam potensi yaitu fatal dan fital. Fatal itu takdir. Secara fisik manusia diberi karunia berupa gudang di belakang kita. Kita tidak mampu melihat apa yang ada di belakang diri kita. Maka kita tidak perlu memikirkan apa yang ada di belakang. Kita punya mata semua ditaruh di muka. Untuk lihat kebelakang harus effort. Maka, epoche itu gudang penyimpanan. secara metafisik, ketika kita fokus bertemu orang lain, kita tidak sedang memikirkan yang lain. Saat ada di sana kita focus memikirkan yang ada di sana. Sementara hal-hal yang lain sudah ditempatkan dalam gudang tersebut. Itu namanya abstraksi. Abstraksi itu memilih. Manusia diberi kemampuan abstraksi. Maka masa depan ya pilihan kita. Abstraksi fokus pada apa yang ingin dibicarakan relevan dengan kepentingannya.

Sebenar-benarnya pembicaraan bijaksana itu sesuai dengan ruang dan waktu. Oleh karena itu kalau bicara sama orang tua harus sesuai dengan ruang dan waktunya. Sebenar-benarnya orang cerdas itu sesuai dengan ruang dan waktu. Bahagia juga sesuai ruang dan waktu. Bicara juga begitu, selalu ada tema yang dipilih. Kalau tidak fokus dengan tema, hal ini menandakan tidak adanya kemampuan abstraksi.

Kita bisa duduk bersama di sini adalah karena punya prinsip yang sama, yaitu kuliah. Prinsip ada di atas karena mengatur kita. Perilaku kita adalah bayang-bayang dari prinsip-prinsip. Prinsip semakin ke atas semakin menyatu, yang tak lain hanya satu, milik Tuhan. Semakin ke bawah prinsip yang ada semakin plural. Jangankan orang yang berbeda, diriku yang sekarang dengan diriku nanti berbeda. Sejarah kita adalah sejarah fatal dan fital kita masing-masing. Dari sajarah filsafat yang ada, di masa sekarang kita menyebutnya filsafat Bahasa atau filsafat analitik. Kita sadar sekarang ada dalam dunia Bahasa. Di dunia ada hoax, ada fitnah, dll. Karena rumah kita adalah Bahasa, maka sebenar-benar dirimu adalah bahasamu. Maka penting untuk menjaga Bahasa kita dalam komunikasi. Hubungan supaya sustain, harus akuntabel. Sebalinya pun supaya akuntabel harus sustain. Supaya bisa dipercaya maka harus ada komunikasi. Supaya komunikasi berjalan terus maka harus bisa  dipercaya. Berdoa dan belajar juga seperti itu.  Belajar terus menerus dan melalui sumber yang dapat dipercaya.

Semua milikmu menjadi sifatmu. Sifatmu itu milikmu. Sebenar-benar milik itu kuasa. Kuasa itu dalam arti ontologis. Dirimu itu ada dua, yang tetap dan berubah. Berubah bisa dalam masalah perasaan, selera makan, gaya pakaian, keinginan, dll. Tapi ada yang tetap, yaitu bahwa kita tetap ciptaan Tuhan. Hal ini tak akan pernah berubah dan tak ada yang mampu membantah. Pernytaan ini  bukan berarti secara parsial kita mencari yang tetap dan berubah dalam diri. Tetapi menyadari bahwa dalam diri memang ada dua sisi yaitu yang tetap dan berubah. Dalam filsafat, hal yang tetap itu bernama ideal. Kalau punya cita-cita ya jangan berubah-ubah, karena itu seharusnya menjadi ideal. Hal yang berubah itu bernama realisme. Kenyataan kitalah yang berubah-ubah.
Musuh kita adalah mitos. Logos terjadi dalam keadaan berpikir, sementara mitos dalam keadaan tidak berpikir. Mitos tidak penting? Tidak. Mitos adalah melakukan pekerjaan dimana kita tidak mengertinya, seperti anak-anak yang sedang mendalami kehidupan, mereka tak mengerti apa yang mereka lakukan dan hal ini dipahami sebaga mitos.



No comments:

Post a Comment