"Tiadalah ilmu jika tak ada pertanyaan. Sebenar-benar ilmu adalah pertanyaan. Jika kita mengabaikan orang yang bertanya maka matilah ilmunya. Apa semua bisa ditanyakan? Bisa. Tetapi ketika muncul pertanyaan normatif harus melihat situasi dan kondisinya, ruang dan waktunya."
Hari itu hari Rabu, 6 September 2017, hari perkuliahan filsafat
ilmu yang pertama bersama Dosen Pengampu Prof. Dr. Marsigit, M.A. Setelah
memulai kelas dengan berdoa, kami memulai refleksi bersama mengenai filsafat.
Filsafat adalah pola pikir. Dalam kuliah filsafat ini ada
landasan. Segala hal di dunia ini memiliki landasan. Landasan yang paling kokoh
dan hakiki adalah landasan spiritual dan agama. Maka landasan yang dipakai
dalam kegiatan berpikir dalam perkuliahan filsafat ini adalah landasan
spiritual. Jangan sampai kita mengembarakan pikiran tanpa landasan. Landasan
lain yang dipakai dalam pergaulan adalah landasan Pancasila dan landasan UUD
1945.
Landasan yang terjadi dari bumi ke langit itu bertumbuh, sementara landasan dari langit ke bumi itu mencari hakikinya atau realitasnya. Kita hidup tak bisa lepas dari apa yang terjadi di langit dan di bumi. Paradigma kuliah itu membangun, kuliah ini sedang membangun pengetahuan. Membangun yang bermakna itu jika membangun pengetahuan dilakukan oleh diri sendiri. Masih ada melibatkan orang lain, bekerjasama dengan orang lain tapi mereka hanya membantu. Membangun pengetahuan sendiri kadang membuat bingung dan kacau pikiran. Sebenar-benar ilmu adalah kacau pikiran. Sekacau pikiran jangan kacau hati. Profesional itu bisa membedakan kacau pikiran dan kacau hati. Saat kacau pikiran, kita tetap harus tenang dan sabar sehingga dapat menghindarkan diri dari kacau hati. Panas pikiran tapi hati tetap dingin.
Filsafat tergantung orangnya. Sebenar-benar filsafat itu adalah
dirimu sendiri. Jangan timpakan filsafatmu kepada orang lain. Sebenar-benar
filsafat itu membaca, sebenar-benar filsafat itu penjelasanmu, sebenar-benar
filsafat itu berpikir. Membangun pengetahuan sendiri melalui filsafat dapat
diperoleh lewat membaca. Filsafat itu berpikir, ketika berpikir itu semua
urusan dunia, bukan akhirat. Urusan akhirat tidak dipikir tapi, tentang hati.
Filsafat itu Bahasa analog, lebih tinggi dari perumpamaan, kiasan, konotatif.
Lebih dari sekedar kiasan, tapi makna dibaliknya. Tiap simbol dan lambang
membawa ikonnya masing-masing, hal ini akan tercermin lewat bahasa yang
dipergunakan.
Tiadalah ilmu jika tak ada pertanyaan. Sebenar-benar ilmu adalah
pertanyaan. Jika kita mengabaikan orang yang bertanya maka matilah ilmunya. Apa
semua bisa ditanyakan? Bisa. Tetapi ketika muncul pertanyaan normatif harus
melihat situasi dan kondisinya, ruang dan waktunya. Kebenaran pun ada
kebenaran yang hakiki dan kebenaran yang relatif. Filsafat itu adalah bacaanmu. Beberapa dalam filsafatmu adalah seberapa banyak engkau membaca. Bangun filsafat
sendiri, jadi diri sendiri.
Apakah ada tahapan dalam bacaan?
Tidak ada. Anda pilih saja. Itu bukan hirarki. Cari saja bacaan
yang menurut anda menarik. Keaktifan kegiatan membangun itulah yang akan
menjadi filsafat dirimu sendiri.
Seberapa potensi filsafat dalam
memecahkan masalah dan menimbulkan masalah? Apakah belajar filsafat harus
ditemani?
Belajar filsafat berbeda dengan
belajar matematika, psikologi. Belajar matematika dari tidak mengerti menjadi
mengerti. Sementara filsafat itu belajar dari awalnya dikira mengerti lama-lama
tidak mengerti dan bingung. Semakin
bingung semakin baik. Tapi tetapkan hati jangan sampai bingung. Karena bingung
itu adalah tanda berpikir. Karena konstruksi pengetahuan dibangun sendiri salah
satunya lewat membaca maka bingung itu wajar. Bingung itu tanda konstruksi konsep
yang satu dengan konsep yang
lain saling berinteraksi. Sebenar-benar hidup itu secara fisik bingung. Tetapi jangan bingung
dalam hati. Supaya tidak bingung dalam hati maka setiap saat harus berdoa. Bahaya orang berfilsafat kalau hanya
setengah-setengah, hanya sedikit dan tak paham. Sulit karena kita belum kenal.
Akal memiliki keterbatasan.
Haruskan kita memikirkan hal-hal yang melampaui akal kita?
Itu hubungannya antara hati dan
pikiran. Bisakah kita hidup
tanpa pikiran?
Harus dijawab melalui eksperimen. Berpikir itu apa? Mulai dari persepsi yang mencaku
melihat, mendengar, meraba, dari panca indera kita. Berpikir adalah kesadaran. Jikalau
engkau tidak berpikir engkau tidak menyadarinya. Pikiran atau akal
itu perlu. Awal dari berpikir
adalah kesadaran. Menurut filsuf, jika kita tidak berpikir maka kita
mati. Menurut spiritual, jika kita tidak sedang berdoa maka kita mati. Maka, sebenar-benarnya hidup adalah hidup
di dalam pikir dan hidup di dalam hati atau spiritual.
Mungkinkah seseorang memiliki kekacauan hati tapi jernih pikirannya?
Jika hatinya kacau, dia sadar akan kekacauan itu. Ketika
jernih pikiran berarti memiliki skema jangka panjang. Hal ini bahaya karena
orang tersebut dapat memiliki rencana-rencana yang jahat dan tak beraturan. Untuk menghilangkan kekacauan hati minta
pertolongan Tuhan.
Beberapa filsuf berlandaskan pada
kebudayaan setempat atau nilai moral, maka menurut siapakah landasan spiritual yang
dibangun dalam perkuliahan ini?
Filsafat itu adalah dirimu masing-masing, kamu yang mengkonstruksi pikiranmu
sendiri. Maka, menurut
dosen, spiritual adalah melandasi perkuliahan filsafat ini. Sebagaimana mungin
pikiran semaksimal mungkin menjangkau ke spiritual. Filsafat bisa dipakai untuk menjadi
pendekatan bagi kehidupan kita sehari-hari.
No comments:
Post a Comment